Teologi Sistematika: Doktrin Allah · Louis Berkhof

Keberadaan Allah

A. Doktrin Allah dalam Dogmatika

Karya dogmatika pada umumnya dimulai dengan Doktrin Allah, dan prosedur ini dianggap paling logis. Jika teologi adalah pengetahuan sistematis tentang Allah, yang dari Dia, oleh Dia, melalui Dia, dan bagi Dia segala sesuatu berada, maka dogmatika memang harus dimulai dengan Allah. Studi teologi berangkat dari dua pra-anggapan: (1) bahwa Allah ada, dan (2) bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya dalam Firman-Nya. Berbagai usaha menyusun seluruh dogmatika sebagai studi tentang Allah, misalnya menurut pola Tritunggal atau menurut pembagian pengetahuan objektif dan subjektif tentang Allah, tidak ada yang berhasil dengan baik.

Sampai awal abad kesembilan belas orang masih memulai dengan Doktrin Allah. Di bawah pengaruh Schleiermacher terjadi perubahan: kesadaran religius manusia menggantikan Firman Allah sebagai sumber teologi. Iman kepada Alkitab sebagai wahyu yang berotoritas disingkirkan, dan emosi serta nalar manusia menjadi dasar. Agama mengambil alih posisi Allah sebagai obyek teologi. Manusia menjadi pencari Allah, dan Allah menjadi kesimpulan silogisme. Titik tolak Schleiermacher bersifat antropologis, bukan teologis. Ada pula teolog yang memulai dengan manusia (Curtis), dengan Kristus sebagai pendiri Kerajaan Allah (Ritschl), atau dengan inkarnasi dan karya penebusan Kristus (Strong).

B. Bukti Alkitab tentang Keberadaan Allah

Keberadaan Allah adalah pra-anggapan penting dalam teologi. Pra-anggapan ini bukan sekadar bahwa ada suatu ide atau kuasa yang dapat disebut Allah, tetapi bahwa sungguh ada suatu Pribadi yang keberadaan dan kesadaran-Nya bersumber pada diri-Nya sendiri, asal mula segala sesuatu, jauh melampaui ciptaan namun hadir dalam segala bagiannya. Pengandaian ini masuk akal, tetapi tidak dapat dibuktikan secara akali tanpa ruang bagi keraguan. Kebenaran tentang Allah diterima oleh iman, dan iman itu didasarkan atas informasi yang dapat dipercaya. Teologi Reformed tidak menyatakan mampu mendemonstrasikan keberadaan Allah dengan argumentasi rasional. Menurut Kuyper, usaha membuktikannya tidak berguna bagi si pencari yang percaya, dan tidak akan berhasil bila dimaksudkan memaksa orang yang tidak beriman.

Iman Kristen bukan iman yang buta. Buktinya ditemukan pertama-tama dalam Alkitab sebagai Firman Allah yang diinspirasikan, dan kedua dalam wahyu Allah di alam semesta. Alkitab tidak membuktikan keberadaan Allah; ayat yang paling dekat adalah Ibrani 11:6. Alkitab menjadikan keberadaan Allah pra-anggapan sejak pernyataannya yang paling awal: "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi." Allah adalah Pencipta, Penopang ciptaan, dan Pemerintah masa depan pribadi dan bangsa-bangsa. Rencana penyelamatan-Nya dipersiapkan dalam Perjanjian Lama melalui pemilihan dan pimpinan atas Israel, dan memuncak dalam Pribadi dan karya Kristus dalam Perjanjian Baru. Wahyu ini menjadi dasar iman kita, tetapi hanya melalui iman wahyu itu dapat diterima dan dipahami dengan benar (Yoh. 7:17; Hos. 6:3; 1 Kor. 1:20-21).

C. Berbagai Bentuk Penyangkalan atas Keberadaan Allah

Ide tentang Allah bersifat universal, namun tetap ada orang, juga di negara-negara Kristen, yang menyangkal Allah yang dinyatakan dalam Alkitab.

1. Penyangkalan Mutlak atas Keberadaan Allah

Sebagian orang berpendapat bahwa ateis sungguhan tidak ada, tetapi ini bertentangan dengan fakta. Ateis dibedakan menjadi ateis praktis, yang hidup seolah-olah Tuhan tidak ada, dan ateis teoritis, yang berusaha membuktikan secara rasional bahwa Allah tidak ada. Mengingat "benih agama" dalam setiap orang yang diciptakan menurut gambar Allah, tidak ada orang yang dilahirkan sebagai ateis. Ateisme lahir dari keadaan moral manusia yang sesat dan keinginan untuk menghindari Allah, melalui tindakan sengaja membutakan diri dan menindas kerinduan terdalam jiwa, sering dengan pergumulan yang lama dan menyakitkan.

Ateis praktis diakui Alkitab (Mzm. 10:4b; 14:1; Ef. 2:12) dan pengalaman. Mereka bisa dianggap baik oleh dunia, tetapi sadar bahwa mereka tidak harmonis dengan Tuhan dan mencoba melupakan-Nya. Mereka memamerkan keateisan saat hidup lancar, tetapi bertelut berdoa saat hidup terancam.

Ateis teoritis lebih intelektual. Flint membedakan tiga jenis: ateisme dogmatis (menolak Keberadaan Ilahi), skeptis (meragukan kemampuan akal), dan kritis (menganggap tidak ada bukti yang sah). Dengan pembagian ini agnostisisme pun sejenis ateisme, sebab membuat kita tanpa obyek penyembahan. Ateis yang sesungguhnya ialah ateis dogmatis. Ateisme teoritis berakar pada teori ilmiah atau filsafat, dan sering berjalan seiring dengan Monisme Materialistis. Panteisme pun menyingkirkan Allah teisme, yaitu Pribadi Yang Maha Tinggi, Pencipta dan Pemelihara yang berbeda dari ciptaan-Nya, karena menggabungkan yang kodrati dan adi-kodrati menjadi satu substansi dan tidak mengakui Tuhan sebagai pribadi yang berpikir dan berkehendak.

2. Konsep-konsep Salah Masa Kini tentang Allah

a. Suatu Allah yang imanen dan bukan suatu pribadi imanen. Teisme percaya pada Allah yang transenden sekaligus imanen. Deisme menyingkirkan keimanenan Allah; di bawah pengaruh panteisme, bandul bergerak ke arah berlawanan sehingga Allah diidentifikasikan dengan dunia. Melalui Schleiermacher, Allah yang sinambung dengan dunia mendapat landasan dalam teologi. Ia menolak Allah yang transenden dan hanya menerima Allah yang dikenal lewat perasaan ketergantungan mutlak. Sifat-sifat Allah dianggap ungkapan simbolis dari perasaan itu, dan ia membantah kepribadian Allah, walaupun tidak konsisten. Pandangan ini diserang Barth dengan penekanan pada Allah sebagai "Yang Sepenuhnya Lain".

b. Suatu Allah yang terbatas dan berpribadi. Ide tentang allah yang terbatas sama tuanya dengan politeisme dan henoteisme, sedangkan teisme menganggap Allah Pribadi yang mutlak dengan kesempurnaan tak terbatas. Menjelang akhir abad kesembilan belas, James menyingkirkan sifat metafisis Allah (keberadaan pada diri-Nya sendiri, ketidakterbatasan, ketidakberubahan) dan mengutamakan sifat moral. Allah dianggap berada dalam waktu dan menyejarah seperti kita, dan karena ada kejahatan di dunia, Ia dianggap terbatas dalam pengetahuan atau kuasa. Bergson menambahkan gagasan Allah yang terus bergumul dan bertumbuh.

c. Allah adalah personifikasi dari ide abstrak semata. Dalam teologi liberal, nama "Allah" dianggap simbol proses kosmis, kuasa universal, atau gagasan mulia; manusia menciptakan Tuhan menurut gambarnya. Teolog sosial menyamakan Tuhan dengan tatanan sosial, dan psikolog menyebutnya proyeksi pikiran manusia. Leuba menganggap ilusi ini berguna, tetapi suatu saat tidak diperlukan lagi. Allah yang didefinisikan demikian bukanlah Allah suatu pribadi dan tidak menjawab kebutuhan terdalam hati manusia.

D. Bukti-Bukti "Rasional" tentang Keberadaan Allah

  1. Argumen Ontologis (Anselmus): manusia mempunyai ide tentang keberadaan yang sempurna mutlak; keberadaan adalah sifat kesempurnaan; maka keberadaan itu harus ada. Namun dari pemikiran abstrak kita tidak dapat menyimpulkan keberadaan yang nyata.
  2. Argumen Kosmologis: segala yang ada mempunyai penyebab, maka semesta pun. Hume mempertanyakan hukum sebab-akibat, dan Kant menunjuk bahwa hal itu berlaku juga bagi Allah. Argumen ini juga tidak membuktikan satu penyebab yang berpribadi dan mutlak.
  3. Argumen Teleologis: dunia menunjukkan tatanan, keserasian, dan tujuan, maka ada keberadaan yang berpikir dan bertujuan. Menurut Kant, ini hanya membuktikan seorang perancang agung, bukan Pencipta.
  4. Argumen Moral: Kant menyimpulkan adanya Pemberi hukum dan Hakim dari imperatif kategoris. Argumen ini menunjuk pada keberadaan yang kudus dan benar, tetapi tidak mengharuskan kepercayaan akan satu Allah Pencipta yang sempurna.
  5. Argumen Historis atau Etnologis: perasaan tentang yang ilahi ada di semua bangsa, maka itu bagian dari sifat manusia dan hanya dijelaskan oleh Keberadaan Maha Tinggi. Dapat ditangkis: gejala itu mungkin bersumber pada kesalahan nenek moyang awal dan melemah seiring kemajuan peradaban.

Evaluasi. Orang percaya tidak membutuhkan argumen-argumen ini, sebab pengakuan mereka bersandar pada penerimaan iman terhadap wahyu Allah dalam Alkitab. Tidak satu pun argumen mampu membangkitkan keyakinan mutlak. Bagi orang percaya, argumen itu lebih tepat disebut testimonia: tafsiran atas wahyu umum dan pemaparan bahwa percaya kepada Keberadaan Ilahi itu masuk akal. Argumen itu juga dapat dipakai sebagai senjata menghadapi penentang, untuk meneguhkan suatu kemungkinan yang kuat.

Pertanyaan untuk Studi Lanjutan

Mengapa teologi modern mementingkan studi tentang manusia lebih dari Allah? Apakah Alkitab membuktikan keberadaan Allah? Apa yang menjelaskan sensus divinitatis? Haruskah kaum humanis digolongkan ateis? Mengapa ide Allah yang dimanusiawikan merupakan ganti yang buruk bagi Allah yang hidup? Apakah kritik Kant terhadap argumentasi spekulatif tentang keberadaan Allah, dan bagaimana kita menilainya?